Untuk memberi rasa aman saat berhaji, Eva Indriyati (39 tahun)
dan suaminya, Kelik Hari Purwanto (39), memutuskan berangkat bersama dua
tahun yang lalu. Kehadiran suami sebagai pendamping dan pelindung saat
berada di Tanah Suci membuatnya lebih mantap. “Kan sebaiknya kita di
sana ada mahramnya,” kata Eva.
Keputusan tidak diambil dengan mudah. Saat itu, ia sebenarnya merasa
berat meninggalkan anak semata wayangnya, Riva Rizki Ramadhani, yang
sedang duduk di kelas 6 SD.
Masih lekat di benak Eva dan Kelik pengalaman tak mengenakkan saat
mereka berumrah dua tahun sebelumnya. Menjelang keberangkatan umrah
waktu itu, Rama masuk rumah sakit karena terkena usus buntu. Ketika
mereka berangkat, si buyung yang duduk di kelas empat SD itu sudah
dioperasi dan keadaannya membaik.
Eva berangkat dengan tenang karena Rama telah dijaga oleh omanya.
“Lagi pula sudah prepare sejak lama,” katanya tentang keberangkatan
mereka berdua. Ternyata, setelah sehari di rumah, Rama sakit lagi. “Kena
infeksi di bekas operasinya itu,” ujarnya. Padahal, Eva dan suaminya
sudah berada di Tanah Suci.
Kendati Rama ditemani dan diurusi secara maksimal oleh omanya, Eva
tetap saja panik. Keadaan Rama tak lepas dari benaknya, telepon tak
lepas dari genggamannya. Tak henti-hentinya Eva berdoa dari jarak jauh
sambil memantau kabar dari Tanah Air. Ia bertambah panik saat mendengar
kabar infeksi pada Rama ternyata sudah menyebar dan parah. “Harus
dilakukan operasi besar, perut dari ujung ke ujung dibuka semua,”
kenangnya. “Rasanya ingin langsung pulang saat itu juga.”
Ia ingin mendampingi Rama dalam keadaan kritis itu. Kepanikannya ia
ceritakan kepada pimpinan rombongan umrahnya, Aa Gym. Pimpinan Ponpes
Daarut Tauhid itu bisa menenangkannya.
“Memangnya apa yang bisa kita lakukan kalau kita ada di sebelah anak
kita?” kata Eva menirukan ucapan Aa Gym. “Di sana dia kan sudah ada di
tangan yang ahli, ada dokter dan rumah sakit yang menolong.”
Aa Gym pun banyak memberikan nasihat. “Kita sedang di rumah Allah,
lebih baik berdoa dari sini saja, insya Allah dikabulkan.” Benar juga,
menurut Eva, setelah ditenangkan seperti itu, ia pun menjadi lebih
khusyuk beribadah. Ia banyak berdoa untuk kesembuhan anaknya. “Pasti
Allah menunjukkan jalan yang terbaik,” ujar Eva, sebagai penguat
keyakinannya.
Setelah tertunda 24 jam, Eva sampai juga ke pelukan anaknya. Rama
masih di ICU, tapi selang, oksigen, dan kateternya sudah tidak lagi
terpasang.
Saat memutuskan berangkat haji, pengalaman umrah itu kembali
menghantui. “Masih kepikiran,” katanya. Apalagi, ternyata, proses
pemberangkatan hajinya ini cepat. “Daftarnya itu Januari, eh Julinya
sudah dapat tempat,” ujar perempuan yang tinggal di daerah Pulo Gadung
ini.
Setelah banyak memantapkan diri, akhirnya Eva pun siap dengan satu
keputusan, tetap berangkat haji. “Pokoknya ikhlaskan semua, itu yang
saya tekankan pada diri saya.”
Ketika memberi kabar ia dan suaminya akan berangkat haji, keluarganya
setuju, termasuk Rama. Bahkan, si belia berjanji untuk menjaga
kesehatan dan tak akan membuat bundanya khawatir.
Untuk lebih mengikhlaskan lagi perasaannya sebelum ia berangkat, Eva
menganut prin sip ala tukang parkir. Baginya, semua harta, juga anak,
hanya titipan dari Allah SWT.
Seperti halnya tukang par kir, ketika ada mobil bagus atau mobil
jelek da tang, di syukurinya. Ketika sang pe milik mobil datang un tuk
mengambil, tukang parkir pun ikhlas membiarkan ba rang yang dititipkan
kepadanya itu pergi, katanya.






0 comments:
Post a Comment