Sunday, 23 September 2012

Hati-hati Tertipu Bangsa Sendiri

Perjalanan ke Tanah Suci untuk beribadah haji meninggalkan kesan yang beragam. Salah satunya, ada juga kesan yang mengesalkan dan diharapkan menjadi pengalaman berharga yang bisa dibagi dengan jamaah haji lainnya yang akan berangkat beribadah.

Dwi Rahayu Lestari berangkat ke Makkah pada musim haji 2011. Dia bersama beberapa orang rekannya dalam satu maktab di Bakhutmah, Makkah bermaksud mengirimkan paket berisi oleh-oleh untuk keluarga di Tanah Air. Namun ternyata paket yang dikirimkannya tak kunjung tiba, bahkan hingga saat ini.
Pada beberapa kali pembicaraan dengan sesama jamaah, ada informasi bahwa pembimbing haji pada KBIH-nya merekomendasikan jasa layanan kargo yang akan dijadwalkan pengirimannya sekitar lima hari, sebelum keberangkatan rombongan ke Madinah, yaitu sekitar pada 19 Nopember 2011.  Dia ebrharap mengirim barang sebelum tangga itu untuk bisa tiba lebih cepat ke Indonesia.

“Maka pada 13 Nopember 2011 sekitar pukul 19.30 (waktu Makkah), kami berinisiatif menelpon Arif S dari Fal Latuf Express cargo yang kartu namanya kami dapatkan pada saat berbelanja di sekitar maktab. Karena begitu kita mukim seminggu di Makkah, jasa layanan cargo yang rata-rata adalah orang Indonesia banyak berseliweran di jalan menawarkan jasa pengiriman melalui perusahaan mereka,” jelasnya.
Paket dia dan keempat rekannya berkapasitas berat berbeda-beda. Dia membayar sesuai tarif yang berlaku saat itu, yaitu 8 riyal per kilogram. Total paket sebanyak 44 kg yang dikemas dalam dua karung kargo seharga 10 riyal, sehingga total biaya 372 riyal.

“Pada saat penulisan alamat pengiriman di karung saya mulai merasa tak enak hati dan terbersit keraguan melihat spidol yang digunakan berwarna merah dan warnanya kurang nyata, sehingga saya menegur, ”Pak Arif, itu spidolnya kok tidak nyata? Dan karung yang satu kenapa tidak ditulis juga alamat lengkapnya?”
Dengan meyakinkan orang kargo menjawab, ”Iya bu, nanti begitu sampai kantor kita tebalkan lagi tulisannya. Dan karung yang satu tidak usah pakai alamat lagi yang penting ada kode yang sama dengan karung lainnya, kan di resi juga kita tulis kok, kalau jumlahnya dua karung. Jadi tidak akan tertukar atau hilang. Kami sudah biasa seperti ini dan orang-orang kargo di pesawat dan di bandara juga sudah tahu.”
Kemudian saya ber-istighfar bahwa ini di Tanah Suci. “Masak iya orang berani menipu atau berbuat jahat, apalagi kami sebangsa, sama-sama orang Indonesia.  Sehingga saya menepis dan membuang jauh-jauh perasaan dan prasangka buruk itu dari pikiran.”

Beberapa kali, dia bahkan bertemu dengan Arif serta bertanya sudah sampai mana paketnya itu. Dia menjawab kemungkinan masih di bandara karena pengirimannya menunggu kargo penuh untuk sekali keberangkatan dan kami masih memelihara pikiran positif itu.
Seminggu setelah tiba di Tanah Air pada 2 Desember 2011, dia menelepon perwakilan perusahaan pengiriman barang itu yang ada di Jakarta. Dia menerima jawaban yang mengagetkan. ”Oooh, ibu…kami sudah lama tidak bekerja sama dengan Fal Latuf. Kemungkinan ibu tertipu karena beberapa hari ini kami banyak sekali menerima telepon yang menanyakan hal sama dengan ibu.”

Antara percaya dan tidak percaya, dia berusaha meyakinkan si penerima telepon dan berjanji akan mengirim by faksimili resi yang saat itu dibawa oleh rekannya satu maktab. Berkali-kali saya telepon baik ke Jakarta maupun ke perwakilan di Surabaya dengan menyebutkan nomor resi. Dia pun bertanya-tanya ke salah satu pembimbing ibadah hajinya di Makkah untuk menelusuri alamat perusahaan itu, namun hasilnya nihil. Karena itu, dia berharap, para jamaah haji memetik pelajaran dari pengalamannya ini.

Sumber : Jurnal Haji



0 comments:

Post a Comment