Dwi Rahayu Lestari berangkat ke Makkah pada musim haji 2011. Dia
bersama beberapa orang rekannya dalam satu maktab di Bakhutmah, Makkah
bermaksud mengirimkan paket berisi oleh-oleh untuk keluarga di Tanah
Air. Namun ternyata paket yang dikirimkannya tak kunjung tiba, bahkan
hingga saat ini.
Pada beberapa kali pembicaraan dengan sesama jamaah, ada informasi bahwa pembimbing haji
pada KBIH-nya merekomendasikan jasa layanan kargo yang akan dijadwalkan
pengirimannya sekitar lima hari, sebelum keberangkatan rombongan ke
Madinah, yaitu sekitar pada 19 Nopember 2011. Dia ebrharap mengirim
barang sebelum tangga itu untuk bisa tiba lebih cepat ke Indonesia.
“Maka pada 13 Nopember 2011 sekitar pukul 19.30 (waktu Makkah), kami
berinisiatif menelpon Arif S dari Fal Latuf Express cargo yang kartu
namanya kami dapatkan pada saat berbelanja di sekitar maktab. Karena
begitu kita mukim seminggu di Makkah, jasa layanan cargo yang rata-rata
adalah orang Indonesia banyak berseliweran di jalan menawarkan jasa
pengiriman melalui perusahaan mereka,” jelasnya.
Paket dia dan keempat rekannya berkapasitas berat berbeda-beda. Dia
membayar sesuai tarif yang berlaku saat itu, yaitu 8 riyal per kilogram.
Total paket sebanyak 44 kg yang dikemas dalam dua karung kargo seharga
10 riyal, sehingga total biaya 372 riyal.
“Pada saat penulisan alamat pengiriman di karung saya mulai merasa
tak enak hati dan terbersit keraguan melihat spidol yang digunakan
berwarna merah dan warnanya kurang nyata, sehingga saya menegur, ”Pak
Arif, itu spidolnya kok tidak nyata? Dan karung yang satu kenapa tidak
ditulis juga alamat lengkapnya?”
Dengan meyakinkan orang kargo menjawab, ”Iya bu, nanti begitu sampai
kantor kita tebalkan lagi tulisannya. Dan karung yang satu tidak usah
pakai alamat lagi yang penting ada kode yang sama dengan karung lainnya,
kan di resi juga kita tulis kok, kalau jumlahnya dua karung. Jadi tidak
akan tertukar atau hilang. Kami sudah biasa seperti ini dan orang-orang
kargo di pesawat dan di bandara juga sudah tahu.”
Kemudian saya ber-istighfar bahwa ini di Tanah Suci. “Masak iya orang
berani menipu atau berbuat jahat, apalagi kami sebangsa, sama-sama
orang Indonesia. Sehingga saya menepis dan membuang jauh-jauh perasaan
dan prasangka buruk itu dari pikiran.”
Beberapa kali, dia bahkan bertemu dengan Arif serta bertanya sudah
sampai mana paketnya itu. Dia menjawab kemungkinan masih di bandara
karena pengirimannya menunggu kargo penuh untuk sekali keberangkatan dan
kami masih memelihara pikiran positif itu.
Seminggu setelah tiba di Tanah Air pada 2 Desember 2011, dia
menelepon perwakilan perusahaan pengiriman barang itu yang ada di
Jakarta. Dia menerima jawaban yang mengagetkan. ”Oooh, ibu…kami sudah
lama tidak bekerja sama dengan Fal Latuf. Kemungkinan ibu tertipu karena
beberapa hari ini kami banyak sekali menerima telepon yang menanyakan
hal sama dengan ibu.”
Antara percaya dan tidak percaya, dia berusaha meyakinkan si penerima
telepon dan berjanji akan mengirim by faksimili resi yang saat itu
dibawa oleh rekannya satu maktab. Berkali-kali saya telepon baik ke
Jakarta maupun ke perwakilan di Surabaya dengan menyebutkan nomor resi.
Dia pun bertanya-tanya ke salah satu pembimbing ibadah hajinya di Makkah
untuk menelusuri alamat perusahaan itu, namun hasilnya nihil. Karena
itu, dia berharap, para jamaah haji memetik pelajaran dari pengalamannya
ini.
Sumber : Jurnal Haji






0 comments:
Post a Comment