Mabit atau bermalam di Muzdalifah memberikan kesempatan kepada jamaah
haji untuk beristirahat guna memulihkan tenaga. Kondisi badan yang fit
sangat diperlukan sebab rangkaian kegiatan ibadah haji keesokan harinya
sangat berat, yaitu melempar jumrah Aqabah di Mina.
Melempar jumrah adalah simbol perlawanan terhadap setan. Karena
melawan setan tidak semudah membalik telapak tangan, kita membutuhkan
stamina dan kekuatan yang sangat besar untuk mengalahkannya. Karena
itulah, sebelum melaksanakan ibadah apa pun kondisi tubuh kita harus
sehat dan kuat.
Hikmah yang bisa kita petik dari kegiatan mabit di Muzdalifah adalah
bahwa untuk dapat menjalankan ibadah secara baik kita harus menjaga
kondisi fisik agar tetap prima. Karena itu, penulis akan menyediakan
ruang tersendiri untuk membahas tentang persiapan apa saja yang harus
dilakukan agar kesehatan fisik dan mental tetap terjaga.
Melempar jumrah adalah simbol perlawanan manusia terhadap setan.
Manusia harus melakukan perlawanan kepada setan karena mereka selalu
berupaya menyesatkan manusia dari jalan kebenaran dan menjauhkan mereka
dari jalan Allah SWT. Melempar jumrah adalah simbol keteladanan Hajar
yang menunjukkan sikap permu terhadap setan.
Dalam suatu riwayat dikatakan bahwa sewaktu Ibrahim membawa Ismail
untuk disembelih, setan membujuk Hajar agar menghentikan langkah
suaminya itu. Sebagi seorang ibu, menurut setan, Hajar tidak akan sampai
hati mengetahui buah hatinya dikorbankan. Perkiraan setan ternyata
meleset. Bukannya menuruti bisikan setan, Hajar malah mengambil batu dan
melemparinya berkali-kali.
Dalam ibadah haji,
melempar jumrah tidak hanya dilakukan dalam satu hari melainkan tiga
atau empat hari. Ini menunjukkan perintah Allah yang sangat tegas agar
manusia benar-benar memusuhi setan dan tidak bersekutu dengannya.
Panji-panji harus terus dikibarkan dan genderang perang melawan setan
harus terus ditabuh.
Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya setan adalah musuh bagimu maka
jadikanlah ia sebagai musuh(mu). Sesungguhnya setan- setan itu hanya
mengajak golongannya agar mereka menjadi penghuni neraka yang
menyala-nyala. (QS. Fathir ayat 6).
Orang yang mengharapkan kebahagiaan di dunia dan akhirat harus bisa
menyelami sekaligus mempraktikkan makna dan nilai-nilai melempar jumrah,
yaitu memusuhi setan hingga kapan pun. Setiap muslim terutama para
jamaah haji yang telah pulang dari Tanah Suci harus mencontoh sikap
Hajar dalam memerangi setan, sebab hanya dengan cara itulah kita akan
sampai pada ridha Allah SWT.
taufik rachman/hannan putra






0 comments:
Post a Comment