JAKARTA — Imam Kedua Mesjid Nabawi di Madinah yang kini bermukim di
Indonesia, Syeikh Ali Jaber, bahwa jika jamaah haji diperlakukan hanya
sebagai komoditas bisnis semata, maka membuat umat muslim sangat kecewa.
Apabila yang terjadi demikian dengan tidak menjalankan amanah pelayanan
penyelenggaraan haji yang baik, maka jelas hal itu tidak sesuai dengan tujuan awalnya.
Syekh Ali Jaber mengatakan, seharusnya ada sikap yang tegas oleh
pemerintah Indonesia ke badan kerajaan Arab Saudi supaya mereka lebih
amanah dan melayani jamaah dengan baik. “Kalau moratorium itu memiliki
kemaslahatan lebih banyak dari madorrah, maka tentu hal itu dibolehkan,
tapi tapi kalu madorrah lebih besar dari manfaat, maka lebih baik kita
sabar,” jelas dia melalui pesan elektroniknya, Ahad (4/11).
Syeikh mengakui, apabila pejabat terkait membiarkan kondisi jamaah
seperti didzalimi, diperlukan langkah tersebut. Namun, kata dia, langkah
itu dilakukan tanpa larangan bagi masyarakat untuk melakukan ibadah.
”Kalau kita di posisi bisa mengubah sesuatu, maka hal itu boleh
dilakukan malah wajib. Tapi kalau hanya sebagai rakyat biasa, maka kita
tidak bisa ambil keputusan hanya bisa memberikan suara saja,” tegasnya.
Pihaknya juga menyoroti para pejabat negara yang ikut pergi ke Tanah
Suci, baik itu sebagai tugas negara, maupun undangan Kerajaan Arab
Saudi. Menurutnya, para pejabat itu sudah seharusnya turun ke lapangan
untuk melihat apa saja yang dialami para jamaahnya.
“Kalau mau haji berangkat sendiri, jangan ikut haji sebagai tamu Raja
Arab, supaya bisa melihat dan merasakan apa yang selalu di rasakan oleh
jamaah Indonesia. Makanya saya imbau agar jamaah itu kalau lagi di
Tanah Suci berdoa agar dapat pimpinan Allah untuk Indonesia yang lebih
maju menuju kemakmuran dan kesejahteraan,” jelasnya.
taufik rachman/dewi mardiani






0 comments:
Post a Comment