PADANG ARAFAH – Wakil Amirul Haj, KH Hasyim Muzadi, mengatakan, wukuf di Arafah merupakan momentum yang agung.
‘’Ini adalah kesempatan paling bermakna untuk mengembangkan serta
memperkuat tauhid kita kepada Allah SWT,’’ ujar Kiai Hasyim dalam
khutbah wukuf di Padang Arafah, Kami (25/10).
Menurut Kiai Hasyim, Tauhid berarti meng-Esakan Allah, sekaligus
mengandung makna keyakinan dan kewajiban kita untuk
mempertanggungjawabkan semua tindakan kita lahir dan batin kepada Allah
SWT.
‘’Tingkat kualitas tauhid kita dapat diukur dari tingkat rasa
pertangungjawaban setiap tindakan kita kepada Allah Swt. Apabila
keimanan kita kepada Allah belum membawa rasa tanggung jawab termaksud
maka sesungguhnya tauhid kita masih mengering dan belum berkembang
semestinya,‘’ papar mantan ketua umum PBNU itu.
Kiai Hasyim menuturkan, meng-Esakan Allah artinya tiada Tuhan selain
Allah. Mejurut dia, seandainya terdapat Tuhan lain selain Allah, maka
alam semesta akan rusak karena alam semesta sebenarnya berada dalam satu
tatanan.
‘’Hanya ada satu Tuhan selain Tuhan adalah ciptaan Tuhan yang ciptaan
itu kemudian disebut alam. Tidak ada unsur kealaman di dalam tuhan, dan
tidak ada unsur ketuhanan di dalam alam,’’ ujarnya.
Arafah, kata Kiai Hasyim, membawa jamaah haji pada proses kenabian
semenjak Adam As sampai dengan Nabi Muhammad Saw. Dalam alur ajaran
Allah dari masa ke masa berdasarkan tauhid yang sama.
‘’Yang mungkin berbeda adalah proses tatanan sosial antar manusia
sehubungan dengan perkembangan manusia itu sendiri dari zaman ke
zaman,’’ paparnya. Menurut dia, Perkembangan agama Islam tidak
menyangkut perubahan teologis namun menyangkut perkembangan sosiologis.
Menurut dia, rasa tanggung jawab kepada Allah dari seluruh tindakan
kita merupakan konsekuensi logis dari tauhid itu sendiri. ‘’Di sisi
lain, kita harus menyadari bahwa pengembangan tauhid tidak cukup
dikembangkan oleh logika kita sendiri tetapi haruslah diletakkan di
dalam konteks ibadah kepada Allah SWT.
Menurut dia, ibadah ritual (Ibadah Mahdhoh) dalam kaitannya hablun
minallah merupakan pengembang utama dari keyakinan tauhid tersebut.
Dengan demikian kelalaian kita di dalam beribadah akan mengeringkan
tauhid kita sendiri, sekalipun belum tentu meniadakannya.
‘’Hubungan kita dengan Allah dalam biasanya dimulai dari dzikir
(mengingat Allah), sekalipun dzikir tidak selalu terucap tetapi yang
terpenting adalah sambungan kesadaran atas pertanggungjawaban kita
tersebut,’’ ungkap Kiai Hasyim.
Ia menegaskan, Apabila hubungan itu terputus, maka nafsu (amarah)
akan menguasai gerakan rohani dan lahiriah. ‘’Dari situlah pangkal
segala kekeliruan kita yang menumbuhkan pengingkaran kepada perintah
Allah SWT.’’
taufik rachman/heri ruslan






0 comments:
Post a Comment