Sepanjang sejarah manusia, jutaan orang melakukan pertemuan dalam
berbagai keperluan. Baik Itu tujuan komersial, budaya, politik, dan
bahkan rekreasi. Namun tidak ada pertemuan yang sebanding dengan Ibadah Haji – pertemuan spiritual yang tidak ada bandingannya di seantero Bumi.
Sebuah ziarah suci yang didirikan oleh Nabi Ibrahim, bapak para nabi. Allah memerintahkan kepada Nabi Ibrahim,
Artinya “Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji,
niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan
mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh”
[QS Al-Hajj: 27].
Sesungguhnya Allah-lah yang memanggil kepada Manusia, dan hati mereka
menanggapi panggilan-Nya. Kongkritnya sekarang adalah pertemuan yang
sangat menakjubkan yang berdasarkan keimanan. Nabi Ibrahim memproklamirkan haji, dan hari ini, orang-orang berkumpul di Mekkah untuk beribadah haji seperti yang diajarkan oleh Rasulullah SAW (Nabi Terakhir) untuk umat manusia.
Ketika Allah mewajibkan haji, maka orang-orang mulai berdatangan ke
Mekah, mereka bersatu, mereka dipanggil untuk menyembah Pencipta mereka
“dari segenap penjuru yang jauh.”. Pesan Allah bersifat universal. Allah
berfirman:
Artinya, “Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya)
maqam Ibrahim; barangsiapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah
dia; mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu
(bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah.
Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha
Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.” [Al-Imran: 97]
Nabi Muhammad (saw) mengatakan: ” “Barangsiapa yang melakukan
Ibadah Haji ke Baitullah dengan tidak mengucapkan perkataan keji, tidak
berbuat fasik, dia akan kembali ke negerinya dengan fitrah jiwanya yang
suci ibarat bayi baru lahir daripada perut ibunya.” (Bukhari Muslim)” .
Ibadah haji adalah suatu momentum spiritual, moral dan Fisik
yang sangat penting. Ini merupakan kesempatan manusia untuk melakukan
pemurnian hati dan untuk mempererat hubungan manusia dengan Allah SWT. Ibadah Haji
adalah ibadah pengabdian dengan ritual yang sudah ditentukan untuk
dilaksanakan. Ritual tersebut dilakukan secara bersamaan dengan manusia
dari seluruh penjuru dunia. Manusia akan “dipaksa” untuk berinteraksi
dengan peziarah seluruh dunia lain dan ini mengajarkan kepada kita
tentang kebajikan, kesabaran, perilaku yang baik, dan kasih dalam cara
kita berhubungan dengan sesama peziarah yang lain.
Nabi Muhammad (saw) selalu menekankan nilai-nilai kesabaran, kasih sayang, memaafkan orang lain, terutama selama ibadah haji.
Dia menyuruh para peziarah pada Hari `Arafah untuk bersikap tenang. ”
Jadilah tenang dan stabil, karena kebenaran tidak pernah dicapai melalui
kegalakan dan tergesa-gesa. “[Al-Muwatta ']
Para peziarah tidak harus saling berteriak satu sama lain atau
berdesak-desakan dan mendorong satu sama lain dalam melaksanakan ritual
Haji. Mereka harus tetap menjaga martabat mereka, menunjukkan sikap sopan santun.
Mereka harus memiliki belas kasihan dan kasih sayang di dalam hati
mereka kepada peziarah yang lain. Apa artinya mengenakan pakaian yang
sederhana dan meninggalkan kenyamanan materi, jika diri kita masih tetap
bersikap egois dan angkuh kepada sesama peziarah lain?
Bagaimana kita bisa mengklaim bahwa kita taat kepada Allah, padahal
saat melempar jumroh saja kita menyakiti peziarah yang lain dengan
menendang dan mendorong mereka?
Ibadah Haji didirikan untuk mempersatukan kita melalui
ibadah yang ditentukan. Kita datang bersama-sama dalam koridor iman dan
kasih sayang, dan hanya untuk menyembah Allah saja. Ini harus disadari
oleh para peziarah agar tidak menyebabkan gangguan, dan untuk memastikan
pelaksanaan ibadah Haji yang aman dan nyaman. Mereka pasti tahu bahwa
Allah Maha Melihat apa yang mereka lakukan.
Selain itu, pelaksanaan ibadah haji saat ini dapat dilihat langsung
melalui televisi. Jutaan orang dari seluruh dunia, termasuk Eropa,
Amerika, Asia Timur, dan Jepang dapat menonton langsung bagaimana Muslim
melakukan ibadah haji itu sendiri. Apa kesan yang akan timbul bagi
penonton jika mereka menyaksikan perilaku para jamaah yang egois dan
mengabaikan sopan santun? Apakah hal ini akan bisa menarik mereka
(penonton TV) kepada Islam?
Inilah sebabnya mengapa Allah memberitahu kita dalam Al Qur’an:
Artinya, “Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu
suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman
kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi
dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak
yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan
orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya,
mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati
janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam
kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang
yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.”
[Al-Baqarah:177].
Sebagai sesama muslim, kita harus ingat bahwa haji adalah demi iman
kita kepada Allah. Haji adalah kesempatan bagi kita untuk mengingat-Nya
dan memuliakan nama-Nya, dan untuk menegakkan apa yang Dia telah
sucikan.
Ibadah Haji bukan sekedar gerakan-gerakan, lebih jauh lagi
yaitu tentang menghormati apa yang Allah telah sucikan. Tujuannya adalah
untuk membawa bersama-sama dalam sebuah ekspresi tunggal iman kita,
ibadah dan cinta Allah di satu sisi dengan cinta dan hormat sesama
jamaah lainnya. muliakan Allah dengan melaksanakan ibadah haji,
dan kita harus sadar bahwa mendorong dan berdesak-desakan dalam
melaksanakan rital haji tidak akan mencapai karunia-Nya, bahwa kesalehan
dan perilaku yang baiklah yang akan mendapat karunia-Nya.
Inilah sebabnya mengapa Allah berfirman tentang Qurban pada saat haji:
Artinya, “Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat
mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat
mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya
kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah
kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik. ” [QS Al-Hajj: 37]
Di antara nilai-nilai penting bahwa Islam datang untuk melindungi
hak-hak asasi manusia dan martabat manusia. Berapa banyak dari kita
melanggar hak saat melakukan ritual haji, sementara mengenakan pakaian
haji?
Oleh Sheikh Salman al-Oadah
Sumber : Haji Umrah






0 comments:
Post a Comment