JAKARTA -- Inspektorat Jenderal Kementerian Agama (Itjen Kemenag) memutuskan akan melakukan analisis khusus terkait penyelenggaraan ibadah haji 2013.
Tindakan itu terkait beberapa indikasi penyalahgunaan dana haji dan beberapa temuan dari Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK).
Irjen Kemenag M Jasin mengatakan, analisis khusus internal dilakukan bersama Direktorat Penyelenggaraan Haji dan Umrah (PHU).
Tindakan itu terkait beberapa indikasi penyalahgunaan dana haji dan beberapa temuan dari Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK).
Irjen Kemenag M Jasin mengatakan, analisis khusus internal dilakukan bersama Direktorat Penyelenggaraan Haji dan Umrah (PHU).
"Intinya semua laporan penyelenggaraan haji 2013 bisa diterima, tapi
ada beberapa hal bagi Inspektorat yang perlu analisis khusus," ujar
Jasin seusai melakukan pertemuan tertutup dengan Menteri Agama dan
Dirjen PHU di kantor Kemenag, Selasa (11/2).
Analisis khusus ini bukan hanya terkait fungsi audit yang dilakukan Inspektorat saja, melainkan juga terkait munculnya permasalahan haji yang muncul dari laporan pihak luar, seperti KPK dan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan. Jasin mengatakan, pihaknya telah menyampaikan hasil pemantauan ibadah haji 2013.
Ia mengungkapkan, dari beberapa pantuan tersebut pihaknya menyampaikan beberapa rekomendasi untuk meningkatkan kualitas layanan ibadah haji.
Analisis khusus ini bukan hanya terkait fungsi audit yang dilakukan Inspektorat saja, melainkan juga terkait munculnya permasalahan haji yang muncul dari laporan pihak luar, seperti KPK dan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan. Jasin mengatakan, pihaknya telah menyampaikan hasil pemantauan ibadah haji 2013.
Ia mengungkapkan, dari beberapa pantuan tersebut pihaknya menyampaikan beberapa rekomendasi untuk meningkatkan kualitas layanan ibadah haji.
"Rekomendasi secara umum perbaikan kualitas layanan jamaah, baik di
saat jamaah berada di Indonesia maupun di Arab Saudi," kata Jasin.
Dirjen PHU Anggito Abimanyu tidak banyak berkomentar terkait rapat internal bersama Menag dan Itjen tersebut. Demikian juga, dengan Menag Suryadharma Ali.
Dirjen PHU Anggito Abimanyu tidak banyak berkomentar terkait rapat internal bersama Menag dan Itjen tersebut. Demikian juga, dengan Menag Suryadharma Ali.
Beberapa pejabat yang menghadiri rapat internal tersebut mengakui
pertemuan membahas soal dugaan gratifikasi dana haji oleh oknum pegawai
Kementerian Agama.
Dalam konferensi pers Irjen Kemenag, Senin lalu, Jasin sempat mengungkapkan mendapat informasi dari PPATK beberapa pegawai di lingkungan Kemenag mendapatkan gratifikasi dari penyalahgunaan dana haji dalam Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH).
Dalam konferensi pers Irjen Kemenag, Senin lalu, Jasin sempat mengungkapkan mendapat informasi dari PPATK beberapa pegawai di lingkungan Kemenag mendapatkan gratifikasi dari penyalahgunaan dana haji dalam Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH).
Mereka diduga menyalahgunakan dana haji dan menggunakannya untuk kepentingan pribadi, yakni membeli kendaraan.
Indikasi penyimpangan tersebut termasuk dalam transaksi mencurigakan terkait dana haji senilai Rp 230 miliar. KPK juga tengah mengusut dugaan korupsi pengadaan barang dan jasa dalam penyelidikan penyelenggaraan haji 2012-2013.
Indikasi penyimpangan tersebut termasuk dalam transaksi mencurigakan terkait dana haji senilai Rp 230 miliar. KPK juga tengah mengusut dugaan korupsi pengadaan barang dan jasa dalam penyelidikan penyelenggaraan haji 2012-2013.
"Jadi, bukan setoran hajinya," kata Juru Bicara KPK Johan Budi.
Kendati demikian, Johan tak menutup kemungkinan penyelidikan akan
berkembang ke dana haji.
Kota
Jeddah kerap dijuluki “Pengantin Laut Merah’’ karena berbatasan
langsung dengan tepian laut Merah. Pesisir pantai Jeddah bernama
Corniche Road pun menyimpan pesona tersendiri. Pesona yang bukan hanya
milik Masjid Apung, tempat wisata kegemaran para jamaah haji dan umrah
Tanah Air.
Pada akhir 2012, proses pembangunan sebagian wilayah utara dari Corniche Road baru saja dirampungkan. Hasil pemugaran sekitar beberapa kilometer dari wilayah ini menghasilkan sebuah tempat rekreasi baru yang sarat fasilitas modern dengan wajah barunya nan bersih. Namanya, North Corniche.
Jadilah, pada pagi hari di sebuah akhir pekan saya mengajak suami menyambangi lokasi North Corniche tadi. Setelah berbulan- bulan akses ke lokasi tersebut ditutup untuk umum, dindingdinding penyekatnya pun akhirnya dibuka.
Tempat-tempat parkir disediakan cukup banyak. Tersebar di beberapa titik, tidak menyatu di satu pelataran khusus. Dari kejauhan, anak-anak sudah menempelkan kepalanya ke kaca mobil dan meributkan taman bermain yang langsung menarik perhatian mereka. Suami pun akhirnya memarkir mobil persis di pelataran parkir di samping lokasi taman bermain tersebut.
Anak-anak langsung berhamburan keluar begitu mesin mobil di matikan. Suasana pagi itu belum begitu ramai. Jadi, anak-anak be bas berkeliaran menyerbu berbagai macam arena permainan di sana. Saya memutuskan jalan-jalan sendiri menyisir sisi pantai yang lain. Ternyata, perubahannya cukup banyak. Sisi-sisi pantai yang berbatasan dengan jalan diberi pagar-pagar. Sebuah trek joging disiapkan pula. Beberapa orang sibuk memancing di bibir pantai. Dan, beberapa orang bersepeda lalu lalang di samping trek lari tadi.
North Corniche juga jauh lebih bersih daripada kondisi sebelum pemugaran. Tempattempat sampah disedia kan di berbagai penjuru. Tempat ini menjelma menjadi tempat re kreasi multifung si yang dapat di nikmati optimal oleh seluruh ang gota keluarga. ¦ ed: indira rezkisari
***
Kuliner Nusantara di Distrik Sharafiyah
Jalan-jalan pada akhir pekan tak lengkap tanpa berwisata kuliner. Biasanya, salah satu keluhan warga asal Tanah Air kala harus merantau ke negeri lain adalah masalah perut. Untuk urusan makanan, pemukim asal Indonesia yang tinggal di Jeddah harus banyak-banyak bersyukur. Makanan cita rasa nusantara tak sulit ditemukan di kota terbesar kedua di Arab Saudi ini. Selain mudah ditemukan, harganya pun tidak terlampau mahal.
Salah satu daerah yang memiliki banyak rumah makan yang menyediakan aneka rupa masakan asal Tanah Air adalah Distrik Sharafiyah. Selain distrik Bagdadiyah, Sharafiyah merupakan distrik favorit pemukim asal Tanah Air.
Di kedua distrik ini banyak ditemukan keluarga-keluarga asal Indonesia yang sekadar tinggal atau sekaligus membuka usaha. Makanya, jangan heran bila Distrik Sharafiyah merupakan pusatnya toko-toko yang menjual barang-barang kebutuhan khas pemukim dari Indonesia. Jenis rumah makan Indonesia di Sharafiyah bermacam- macam. Ada yang selevel restoran menengah ke atas, ada pula yang berupa warung-warung makan sederhana atau populer di Indonesia dengan sebutan warteg.
Untuk kenyamanan anak-anak, sebaiknya memilih tempat makan yang cukup bersih dan luas. Misalnya, tempat yang kami sambangi selepas lelah menghabiskan pagi yang sibuk di North Corniche, yaitu Restoran Putri Sriwijaya.
Setelah meninggalkan pelataran parkir di Corniche Road, suami mengarahkan mobil menuju sebuah lokasi rumah makan Indonesia di Jalan Khalid bin Walid. Jalanan ini merupakan salah satu jalan terbesar dan akses utama menuju distrik Sharafiyah untuk ke Restoran Putri Sriwijaya.
Menilik namanya, pengunjung akan mengira rumah makan ini khusus menyajikan sajian khas dari Sumatra saja. Tak perlu kuatir, selain menyediakan berbagai menu andalan asal pulau di bagian barat nusantara itu, Putri Sriwijaya mencantumkan masakan khas nusantara lain dalam daftar menunya. Sebut saja, soto ayam, satai madura, nasi goreng, macam-macam sup, gado-gado, berbagai macam menu ikan bakar, hingga ayam panggang, dan masih banyak lagi.
Satai padang merupakan salah satu pesanan wajib para pengunjung di rumah makan ini. Saya dan suami pun penggemar makanan khas Tanah Minang tersebut. Selain satai padang, meja kami juga dijejali oleh satai ayam dan soto madura.
Rasanya tidak kalah lezatnya dengan masakan yang sama yang disajikan di Tanah Air. Maklum saja, bukan hanya kasir dan para pelayannya, tukang masak di restoran ini kebanyakan orang-orang Indonesia asli, lho. Selain makanan utama, minuman yang disajikan juga bermacam-macam. Jus hingga teh manis, kadangkadang juga ada es kelapa muda. Sayang sekali, saat ke sana, kata pelayannya stok minuman segar yang satu itu sedang habis.
Harga satu porsi makanan utama bervariasi, dari kisaran 15 riyal hingga 30 riyal (1 riyal sama dengan Rp 2.500). Porsinya cukup banyak dan berlebih jika dinikmati untuk seorang diri saja. Minumannya sendiri seharga dua riyal sampai delapan riyal per gelas.
Tempatnya bagus dan bersih. Sesuai kebiasaan umum di rumah-rumah makan di Saudi, tiap meja disekat khusus. Orang Arab sangat menjaga privasi. Apalagi, hijab antara perempuan dan laki-laki di tempat umum sangat diperhatikan. Jadi, tiap keluarga bisa menikmati santapan masing-masing dalam ruang tertutup. Kaum Hawa bisa melepas tutup muka atau cadarnya. Bahkan, bisa membuka abayanya tanpa kuatir ada orang lain yang memperhatikan.
Selain Putri Sriwijaya, ada juga restoran lain sejenis dengan menu dan harga yang mirip, yaitu Rumah Makan Sumatera. Lokasinya masih di sekitar Jalan Khalid bin Walid. Tak jauh dari Putri Sriwijaya.
Untuk sajian khas soto betawi, pepes ikan, dan mi bakso, silakan menyambangi Restoran Betawi. Lokasinya lagi-lagi berada di seputaran Khalid bin Walid. Setelah melewati perempatan besar pertama di Khalid bin Walid, gedung restorannya bisa dicapai dengan membelokkan mobil ke arah kiri. ¦
***
Senja di Tengah Gurun
Setelah berpuas-puas di pantai dan menyambangi salah satu rumah makan Indonesia di Distrik Sharafiyah, kami diajak oleh teman-teman menghabiskan sore dan malam hari ke Bahrah. Wilayah Bahrah memiliki areal padang pasir yang tak jarang dikunjungi oleh pemilik mobilmobil besar untuk kegiatan off-road.
Kami berangkat menuju Bahrah dengan konvoi. Ada sekitar sembilan keluarga yang ikut serta dengan membawa lengkap anggota keluarga masing-masing, termasuk anak-anak.
Setelah menyusuri jalanan tol, searah jalan menuju Mekkah, dalam tempo sekitar satu jam tibalah iring-iringan mobil kami di gurun pasir Bahrah. Beberapa mobil yang kondisinya tidak memungkinkan untuk me nem bus jalanan berpasir di gurun dibiarkan terparkir di sisi jalan yang masih beraspal. Penumpangnya berpindah ke mobil-mobil besar yang sedia nya memang akan digunakan oleh bapak-bapak untuk membedah gurun melalui kegiatan off-road.
Susah payah menyetir membawa penumpang penuh dan barang-barang lainnya, sekitar 15 menit kemudian tiba juga rombongan di tengah-tengah gurun. Ibu-ibu bergegas turun, membentangkan tikar dan karpet dan menata bahan makanan. Anak-anak tidak ketinggalan. Tanpa dikomando, mereka kompak berlarian ke sana kemari, naik turun beramai-rami di gundukangun dukan pasir yang mendominasi wilayah gurun tempat kami berhenti.
Sementara para ibu sibuk mempersiapkan makan malam, para bapak ramai-ramai menjajal mobil yang ada untuk mengasah keterampilan mengemudi di hamparan padang pasir. Anak-anak kami biarkan saja berkeliaran semaunya. Beberapa ibu ditugaskan untuk menjaga anak-anak. Tidak ikut berlarian bersama mereka, tapi sekadar menjaga agar anak-anak tetap berada dalam jangkauan pandangan mata kami.
Tak terasa, senja pun hampir habis. Tak lama, sayup-sayup terdengar azan Maghrib dari kejauhan. Nun jauh di tengah-tengah gurun, ibadah shalat pun tetap menjadi kewajiban mutlak. Para bapak menjalankan shalat berjamaah lebih dahulu, disusul para ibu.
Saat gelap mulai menjelang, para bapak bersiap-siap membakar satai ayam, salah satu menu makan malam kami saat itu. Aroma bakso pun mulai tercium dari panci besar yang sejak sejam yang lalu disiapkan dan direbus di atas kompor kecil oleh para ibu-ibu.
Ritual makan malam pun berlangsung dengan penerangan dari cahaya lampu mobil yang sengaja dinyalakan sejak cahaya mentari sudah menghilang sepenuhnya di langit malam. Sambil menyuapi anak-anak, ibu-ibu juga ikut makan sembari mengobrol. Sementara, bapak-bapak berkumpul menikmati hidangan malamnya sambil menjaga di samping perapian tempat membakar daging satai tadi.
Setelah kenyang dan puas berbagi cerita, kami segera berbenah sebelum malam bertambah pekat. Kami pun kembali ke tempat sebagian mobil diparkirkan tadi. Para penumpang kembali ke mobil masing-masing. Usai saling berpamitan, masing-masing mobil berangkat sendiri-sendiri menyisir jalan tol menembus malam dengan membawa kenangan indah dalam hati masing-masing. ¦
***
Naik Apa Habis Berapa ?
Tiket pesawat dari Jakarta ke Jeddah dimulai dari Rp 8 juta untuk satu orang. Bila tertarik menyambangi Jeddah, akan lebih ekonomis dengan mengambil paket umrah. Harga paket umrah ada yang dari Rp 15 juta untuk satu orang.
Visa
Visa juga diperlukan bagi WNI yang ingin ke Arab Saudi.
Akomodasi
Penginapan di sekitar Corniche sangat banyak. Harganya juga bervariasi, mulai dari Rp 800 ribu per malam, hingga Rp 4 juta per malam. ¦
- See more at: http://www.jurnalhaji.com/pernik-haji/berakhir-pekan-di-saudi-dari-pantai-kuliner-dan-gurun-pasir/#sthash.trDMnKk7.dpuf
Pada akhir 2012, proses pembangunan sebagian wilayah utara dari Corniche Road baru saja dirampungkan. Hasil pemugaran sekitar beberapa kilometer dari wilayah ini menghasilkan sebuah tempat rekreasi baru yang sarat fasilitas modern dengan wajah barunya nan bersih. Namanya, North Corniche.
Jadilah, pada pagi hari di sebuah akhir pekan saya mengajak suami menyambangi lokasi North Corniche tadi. Setelah berbulan- bulan akses ke lokasi tersebut ditutup untuk umum, dindingdinding penyekatnya pun akhirnya dibuka.
Tempat-tempat parkir disediakan cukup banyak. Tersebar di beberapa titik, tidak menyatu di satu pelataran khusus. Dari kejauhan, anak-anak sudah menempelkan kepalanya ke kaca mobil dan meributkan taman bermain yang langsung menarik perhatian mereka. Suami pun akhirnya memarkir mobil persis di pelataran parkir di samping lokasi taman bermain tersebut.
Anak-anak langsung berhamburan keluar begitu mesin mobil di matikan. Suasana pagi itu belum begitu ramai. Jadi, anak-anak be bas berkeliaran menyerbu berbagai macam arena permainan di sana. Saya memutuskan jalan-jalan sendiri menyisir sisi pantai yang lain. Ternyata, perubahannya cukup banyak. Sisi-sisi pantai yang berbatasan dengan jalan diberi pagar-pagar. Sebuah trek joging disiapkan pula. Beberapa orang sibuk memancing di bibir pantai. Dan, beberapa orang bersepeda lalu lalang di samping trek lari tadi.
North Corniche juga jauh lebih bersih daripada kondisi sebelum pemugaran. Tempattempat sampah disedia kan di berbagai penjuru. Tempat ini menjelma menjadi tempat re kreasi multifung si yang dapat di nikmati optimal oleh seluruh ang gota keluarga. ¦ ed: indira rezkisari
***
Kuliner Nusantara di Distrik Sharafiyah
Jalan-jalan pada akhir pekan tak lengkap tanpa berwisata kuliner. Biasanya, salah satu keluhan warga asal Tanah Air kala harus merantau ke negeri lain adalah masalah perut. Untuk urusan makanan, pemukim asal Indonesia yang tinggal di Jeddah harus banyak-banyak bersyukur. Makanan cita rasa nusantara tak sulit ditemukan di kota terbesar kedua di Arab Saudi ini. Selain mudah ditemukan, harganya pun tidak terlampau mahal.
Salah satu daerah yang memiliki banyak rumah makan yang menyediakan aneka rupa masakan asal Tanah Air adalah Distrik Sharafiyah. Selain distrik Bagdadiyah, Sharafiyah merupakan distrik favorit pemukim asal Tanah Air.
Di kedua distrik ini banyak ditemukan keluarga-keluarga asal Indonesia yang sekadar tinggal atau sekaligus membuka usaha. Makanya, jangan heran bila Distrik Sharafiyah merupakan pusatnya toko-toko yang menjual barang-barang kebutuhan khas pemukim dari Indonesia. Jenis rumah makan Indonesia di Sharafiyah bermacam- macam. Ada yang selevel restoran menengah ke atas, ada pula yang berupa warung-warung makan sederhana atau populer di Indonesia dengan sebutan warteg.
Untuk kenyamanan anak-anak, sebaiknya memilih tempat makan yang cukup bersih dan luas. Misalnya, tempat yang kami sambangi selepas lelah menghabiskan pagi yang sibuk di North Corniche, yaitu Restoran Putri Sriwijaya.
Setelah meninggalkan pelataran parkir di Corniche Road, suami mengarahkan mobil menuju sebuah lokasi rumah makan Indonesia di Jalan Khalid bin Walid. Jalanan ini merupakan salah satu jalan terbesar dan akses utama menuju distrik Sharafiyah untuk ke Restoran Putri Sriwijaya.
Menilik namanya, pengunjung akan mengira rumah makan ini khusus menyajikan sajian khas dari Sumatra saja. Tak perlu kuatir, selain menyediakan berbagai menu andalan asal pulau di bagian barat nusantara itu, Putri Sriwijaya mencantumkan masakan khas nusantara lain dalam daftar menunya. Sebut saja, soto ayam, satai madura, nasi goreng, macam-macam sup, gado-gado, berbagai macam menu ikan bakar, hingga ayam panggang, dan masih banyak lagi.
Satai padang merupakan salah satu pesanan wajib para pengunjung di rumah makan ini. Saya dan suami pun penggemar makanan khas Tanah Minang tersebut. Selain satai padang, meja kami juga dijejali oleh satai ayam dan soto madura.
Rasanya tidak kalah lezatnya dengan masakan yang sama yang disajikan di Tanah Air. Maklum saja, bukan hanya kasir dan para pelayannya, tukang masak di restoran ini kebanyakan orang-orang Indonesia asli, lho. Selain makanan utama, minuman yang disajikan juga bermacam-macam. Jus hingga teh manis, kadangkadang juga ada es kelapa muda. Sayang sekali, saat ke sana, kata pelayannya stok minuman segar yang satu itu sedang habis.
Harga satu porsi makanan utama bervariasi, dari kisaran 15 riyal hingga 30 riyal (1 riyal sama dengan Rp 2.500). Porsinya cukup banyak dan berlebih jika dinikmati untuk seorang diri saja. Minumannya sendiri seharga dua riyal sampai delapan riyal per gelas.
Tempatnya bagus dan bersih. Sesuai kebiasaan umum di rumah-rumah makan di Saudi, tiap meja disekat khusus. Orang Arab sangat menjaga privasi. Apalagi, hijab antara perempuan dan laki-laki di tempat umum sangat diperhatikan. Jadi, tiap keluarga bisa menikmati santapan masing-masing dalam ruang tertutup. Kaum Hawa bisa melepas tutup muka atau cadarnya. Bahkan, bisa membuka abayanya tanpa kuatir ada orang lain yang memperhatikan.
Selain Putri Sriwijaya, ada juga restoran lain sejenis dengan menu dan harga yang mirip, yaitu Rumah Makan Sumatera. Lokasinya masih di sekitar Jalan Khalid bin Walid. Tak jauh dari Putri Sriwijaya.
Untuk sajian khas soto betawi, pepes ikan, dan mi bakso, silakan menyambangi Restoran Betawi. Lokasinya lagi-lagi berada di seputaran Khalid bin Walid. Setelah melewati perempatan besar pertama di Khalid bin Walid, gedung restorannya bisa dicapai dengan membelokkan mobil ke arah kiri. ¦
***
Senja di Tengah Gurun
Setelah berpuas-puas di pantai dan menyambangi salah satu rumah makan Indonesia di Distrik Sharafiyah, kami diajak oleh teman-teman menghabiskan sore dan malam hari ke Bahrah. Wilayah Bahrah memiliki areal padang pasir yang tak jarang dikunjungi oleh pemilik mobilmobil besar untuk kegiatan off-road.
Kami berangkat menuju Bahrah dengan konvoi. Ada sekitar sembilan keluarga yang ikut serta dengan membawa lengkap anggota keluarga masing-masing, termasuk anak-anak.
Setelah menyusuri jalanan tol, searah jalan menuju Mekkah, dalam tempo sekitar satu jam tibalah iring-iringan mobil kami di gurun pasir Bahrah. Beberapa mobil yang kondisinya tidak memungkinkan untuk me nem bus jalanan berpasir di gurun dibiarkan terparkir di sisi jalan yang masih beraspal. Penumpangnya berpindah ke mobil-mobil besar yang sedia nya memang akan digunakan oleh bapak-bapak untuk membedah gurun melalui kegiatan off-road.
Susah payah menyetir membawa penumpang penuh dan barang-barang lainnya, sekitar 15 menit kemudian tiba juga rombongan di tengah-tengah gurun. Ibu-ibu bergegas turun, membentangkan tikar dan karpet dan menata bahan makanan. Anak-anak tidak ketinggalan. Tanpa dikomando, mereka kompak berlarian ke sana kemari, naik turun beramai-rami di gundukangun dukan pasir yang mendominasi wilayah gurun tempat kami berhenti.
Sementara para ibu sibuk mempersiapkan makan malam, para bapak ramai-ramai menjajal mobil yang ada untuk mengasah keterampilan mengemudi di hamparan padang pasir. Anak-anak kami biarkan saja berkeliaran semaunya. Beberapa ibu ditugaskan untuk menjaga anak-anak. Tidak ikut berlarian bersama mereka, tapi sekadar menjaga agar anak-anak tetap berada dalam jangkauan pandangan mata kami.
Tak terasa, senja pun hampir habis. Tak lama, sayup-sayup terdengar azan Maghrib dari kejauhan. Nun jauh di tengah-tengah gurun, ibadah shalat pun tetap menjadi kewajiban mutlak. Para bapak menjalankan shalat berjamaah lebih dahulu, disusul para ibu.
Saat gelap mulai menjelang, para bapak bersiap-siap membakar satai ayam, salah satu menu makan malam kami saat itu. Aroma bakso pun mulai tercium dari panci besar yang sejak sejam yang lalu disiapkan dan direbus di atas kompor kecil oleh para ibu-ibu.
Ritual makan malam pun berlangsung dengan penerangan dari cahaya lampu mobil yang sengaja dinyalakan sejak cahaya mentari sudah menghilang sepenuhnya di langit malam. Sambil menyuapi anak-anak, ibu-ibu juga ikut makan sembari mengobrol. Sementara, bapak-bapak berkumpul menikmati hidangan malamnya sambil menjaga di samping perapian tempat membakar daging satai tadi.
Setelah kenyang dan puas berbagi cerita, kami segera berbenah sebelum malam bertambah pekat. Kami pun kembali ke tempat sebagian mobil diparkirkan tadi. Para penumpang kembali ke mobil masing-masing. Usai saling berpamitan, masing-masing mobil berangkat sendiri-sendiri menyisir jalan tol menembus malam dengan membawa kenangan indah dalam hati masing-masing. ¦
***
Naik Apa Habis Berapa ?
Tiket pesawat dari Jakarta ke Jeddah dimulai dari Rp 8 juta untuk satu orang. Bila tertarik menyambangi Jeddah, akan lebih ekonomis dengan mengambil paket umrah. Harga paket umrah ada yang dari Rp 15 juta untuk satu orang.
Visa
Visa juga diperlukan bagi WNI yang ingin ke Arab Saudi.
Akomodasi
Penginapan di sekitar Corniche sangat banyak. Harganya juga bervariasi, mulai dari Rp 800 ribu per malam, hingga Rp 4 juta per malam. ¦
- See more at: http://www.jurnalhaji.com/pernik-haji/berakhir-pekan-di-saudi-dari-pantai-kuliner-dan-gurun-pasir/#sthash.trDMnKk7.dpuf
REPUBLIKA.CO.ID,
Ji’ranah, adalah sebuah desa yang berjarak sekitar 26 km dari Kota
Makkah. Nama ini pada mulanya adalah sebuah nama yang diberikan kepada
seorang wanita yang mengabdikan dirinya menjaga dan membersihkan sebuah
masjid yang terdapat di desa tersebut.
Paling tidak, ada dua persoalan hubungan antara kampung Ji’ranah dengan pelaksanaan Ibadah Haji dan Umrah. Pertama, oleh Ulama Mazhab Syafi’i berpendapat, Ji’ranah merupakan salah satu tempat yang ditentukan untuk melakukan ibadah miqat [miqat makani), khususnya bagi penduduk Kota Makkah.
Tempat ini berada di perbatasan tanah geografis (wilayah) kota Makkah dan berjarak lebih kurang 26 km di sebelah selatan kota Makkah. Rasulullah SAW sendiri memulai Ihram-nya dari tempat tersebut. (HR. al-Bukhari dan Muslim).
Oleh karena itu, ketika memasuki kampung Ji’ranah, setiap jamaah haji atau umrah harus memakai pakaian “ ihram ” (baju suci) dan berniat melaksanakan ibadah haji atau umrah.
Berbeda dengan ulama Mazhab Syafi’i, ulama Mazhab Hanafi berpendapat, khusus penduduk kota Makkah, sebaiknya ihram dimulai/ dilaksanakan di Tan’im, juga salah satu daerah yang berada di luar kota Makkah yang jaraknya lebih kurang 5 km dari Makkah.
Dalilnya, karena Rasulullah SAW memerintahkan Abdurrahman bin Abi Bakar untuk ber-ihram dari Masjid ‘Aisyah di Tan’im (HR al-Bukhari dan Muslim). Jika dari Tan’im tidak bisa, menurut mereka, boleh dilakukan dari Ji’ranah.
Kemudian jika tidak bisa juga boleh dari Hudaibiyah, yaitu sebuah desa di sebelah Utara kota Makkah yang sekarang diberi nama dengan asy-Syumaisyiyah. Jarak asy-Syumaisyiyah dari kota Makkah adalah 23 km.
Menurut ulama Mazhab Maliki, seseorang yang melaksanakan ibadah haji atau umrah boleh menggunakan miqat Ji ‘ranah atau Tanim.
Dari segi fadhilah, berarti Ji’ranah tidak berbeda dengan tempat-tempat miqat lainnya, seperti Bier ‘Ali (Zul Hulaifah), Tanim, Hudaibiyah (asy- Syumaisyiyah), Rabigh, al-Juhfah, Yalamlam, Qarnu al-Munazil, dan Zatu lrq. Justru dalam satu riwayat disebutkan, bahwa Ji’ranah memiliki derajat yang lebih tinggi dibanding dengan tempat-tempat miqat lainnya.
Kedua, disamping sebagai tempat melakukan ibadah miqat, kampung Ji’ranah merupakan salah-satu dari beberapa tempat tujuan wisata atau perziarahan oleh para wisatawan atau jamaah Haji dan Umrah yang ada di sekitar Kota Makkah.
Di kampung Ji’ranah ini bisa ditemukan beberapa tempat wisata atau perziarahan. Salah satunya adalah sebuah masjid dan sebuah sumur yang dikenal dengan Bir Thaflah.
Menurut sejarah, sumur (Bir Thaflah) ini dahulunya terjadi sebagai salah satu mukjizat Rasulullah SAW dikala beliau bersama para pejuang Islam lainnya berhenti untuk membagi- bagi harta ghanimah sebagal hasil dari kemenangan mereka pada Perang Hunain yang baru saja mereka menangkan.
Namun karena persediaan air mereka habis, sementara Nabi dan para sahabat lainnya dalam kondisi sangat kehausan, dan di sekitarnya tidak ditemukan air. Nabi Muhammad SAW memukulkan tongkatnya. Berkat kekuasaan Allah SWT, dengan serta merta terpancarlah air yang sangat banyak sehingga cukup untuk memenuhi kebutuhan mereka.
Ajaibnya, sampai sekarang air sumur tersebut tidak pernah kering dan sering dipercaya oleh sebagian orang, bahwa airnya bisa dijadikan obat untuk menyembuhkan penyakit.
- See more at: http://www.jurnalhaji.com/wijhat/keistimewaan-miqat-di-jiranah/#sthash.laCeqwp2.dpuf
Paling tidak, ada dua persoalan hubungan antara kampung Ji’ranah dengan pelaksanaan Ibadah Haji dan Umrah. Pertama, oleh Ulama Mazhab Syafi’i berpendapat, Ji’ranah merupakan salah satu tempat yang ditentukan untuk melakukan ibadah miqat [miqat makani), khususnya bagi penduduk Kota Makkah.
Tempat ini berada di perbatasan tanah geografis (wilayah) kota Makkah dan berjarak lebih kurang 26 km di sebelah selatan kota Makkah. Rasulullah SAW sendiri memulai Ihram-nya dari tempat tersebut. (HR. al-Bukhari dan Muslim).
Oleh karena itu, ketika memasuki kampung Ji’ranah, setiap jamaah haji atau umrah harus memakai pakaian “ ihram ” (baju suci) dan berniat melaksanakan ibadah haji atau umrah.
Berbeda dengan ulama Mazhab Syafi’i, ulama Mazhab Hanafi berpendapat, khusus penduduk kota Makkah, sebaiknya ihram dimulai/ dilaksanakan di Tan’im, juga salah satu daerah yang berada di luar kota Makkah yang jaraknya lebih kurang 5 km dari Makkah.
Dalilnya, karena Rasulullah SAW memerintahkan Abdurrahman bin Abi Bakar untuk ber-ihram dari Masjid ‘Aisyah di Tan’im (HR al-Bukhari dan Muslim). Jika dari Tan’im tidak bisa, menurut mereka, boleh dilakukan dari Ji’ranah.
Kemudian jika tidak bisa juga boleh dari Hudaibiyah, yaitu sebuah desa di sebelah Utara kota Makkah yang sekarang diberi nama dengan asy-Syumaisyiyah. Jarak asy-Syumaisyiyah dari kota Makkah adalah 23 km.
Menurut ulama Mazhab Maliki, seseorang yang melaksanakan ibadah haji atau umrah boleh menggunakan miqat Ji ‘ranah atau Tanim.
Dari segi fadhilah, berarti Ji’ranah tidak berbeda dengan tempat-tempat miqat lainnya, seperti Bier ‘Ali (Zul Hulaifah), Tanim, Hudaibiyah (asy- Syumaisyiyah), Rabigh, al-Juhfah, Yalamlam, Qarnu al-Munazil, dan Zatu lrq. Justru dalam satu riwayat disebutkan, bahwa Ji’ranah memiliki derajat yang lebih tinggi dibanding dengan tempat-tempat miqat lainnya.
Kedua, disamping sebagai tempat melakukan ibadah miqat, kampung Ji’ranah merupakan salah-satu dari beberapa tempat tujuan wisata atau perziarahan oleh para wisatawan atau jamaah Haji dan Umrah yang ada di sekitar Kota Makkah.
Di kampung Ji’ranah ini bisa ditemukan beberapa tempat wisata atau perziarahan. Salah satunya adalah sebuah masjid dan sebuah sumur yang dikenal dengan Bir Thaflah.
Menurut sejarah, sumur (Bir Thaflah) ini dahulunya terjadi sebagai salah satu mukjizat Rasulullah SAW dikala beliau bersama para pejuang Islam lainnya berhenti untuk membagi- bagi harta ghanimah sebagal hasil dari kemenangan mereka pada Perang Hunain yang baru saja mereka menangkan.
Namun karena persediaan air mereka habis, sementara Nabi dan para sahabat lainnya dalam kondisi sangat kehausan, dan di sekitarnya tidak ditemukan air. Nabi Muhammad SAW memukulkan tongkatnya. Berkat kekuasaan Allah SWT, dengan serta merta terpancarlah air yang sangat banyak sehingga cukup untuk memenuhi kebutuhan mereka.
Ajaibnya, sampai sekarang air sumur tersebut tidak pernah kering dan sering dipercaya oleh sebagian orang, bahwa airnya bisa dijadikan obat untuk menyembuhkan penyakit.
- See more at: http://www.jurnalhaji.com/wijhat/keistimewaan-miqat-di-jiranah/#sthash.laCeqwp2.dpuf
Paling tidak, ada dua persoalan hubungan antara kampung Ji’ranah dengan pelaksanaan Ibadah Haji dan Umrah. Pertama, oleh Ulama Mazhab Syafi’i berpendapat, Ji’ranah merupakan salah satu tempat yang ditentukan untuk melakukan ibadah miqat [miqat makani), khususnya bagi penduduk Kota Makkah.
Tempat ini berada di perbatasan tanah geografis (wilayah) kota Makkah dan berjarak lebih kurang 26 km di sebelah selatan kota Makkah. Rasulullah SAW sendiri memulai Ihram-nya dari tempat tersebut. (HR. al-Bukhari dan Muslim).
Oleh karena itu, ketika memasuki kampung Ji’ranah, setiap jamaah haji atau umrah harus memakai pakaian “ ihram ” (baju suci) dan berniat melaksanakan ibadah haji atau umrah.
Berbeda dengan ulama Mazhab Syafi’i, ulama Mazhab Hanafi berpendapat, khusus penduduk kota Makkah, sebaiknya ihram dimulai/ dilaksanakan di Tan’im, juga salah satu daerah yang berada di luar kota Makkah yang jaraknya lebih kurang 5 km dari Makkah.
Dalilnya, karena Rasulullah SAW memerintahkan Abdurrahman bin Abi Bakar untuk ber-ihram dari Masjid ‘Aisyah di Tan’im (HR al-Bukhari dan Muslim). Jika dari Tan’im tidak bisa, menurut mereka, boleh dilakukan dari Ji’ranah.
Kemudian jika tidak bisa juga boleh dari Hudaibiyah, yaitu sebuah desa di sebelah Utara kota Makkah yang sekarang diberi nama dengan asy-Syumaisyiyah. Jarak asy-Syumaisyiyah dari kota Makkah adalah 23 km.
Menurut ulama Mazhab Maliki, seseorang yang melaksanakan ibadah haji atau umrah boleh menggunakan miqat Ji ‘ranah atau Tanim.
Dari segi fadhilah, berarti Ji’ranah tidak berbeda dengan tempat-tempat miqat lainnya, seperti Bier ‘Ali (Zul Hulaifah), Tanim, Hudaibiyah (asy- Syumaisyiyah), Rabigh, al-Juhfah, Yalamlam, Qarnu al-Munazil, dan Zatu lrq. Justru dalam satu riwayat disebutkan, bahwa Ji’ranah memiliki derajat yang lebih tinggi dibanding dengan tempat-tempat miqat lainnya.
Kedua, disamping sebagai tempat melakukan ibadah miqat, kampung Ji’ranah merupakan salah-satu dari beberapa tempat tujuan wisata atau perziarahan oleh para wisatawan atau jamaah Haji dan Umrah yang ada di sekitar Kota Makkah.
Di kampung Ji’ranah ini bisa ditemukan beberapa tempat wisata atau perziarahan. Salah satunya adalah sebuah masjid dan sebuah sumur yang dikenal dengan Bir Thaflah.
Menurut sejarah, sumur (Bir Thaflah) ini dahulunya terjadi sebagai salah satu mukjizat Rasulullah SAW dikala beliau bersama para pejuang Islam lainnya berhenti untuk membagi- bagi harta ghanimah sebagal hasil dari kemenangan mereka pada Perang Hunain yang baru saja mereka menangkan.
Namun karena persediaan air mereka habis, sementara Nabi dan para sahabat lainnya dalam kondisi sangat kehausan, dan di sekitarnya tidak ditemukan air. Nabi Muhammad SAW memukulkan tongkatnya. Berkat kekuasaan Allah SWT, dengan serta merta terpancarlah air yang sangat banyak sehingga cukup untuk memenuhi kebutuhan mereka.
Ajaibnya, sampai sekarang air sumur tersebut tidak pernah kering dan sering dipercaya oleh sebagian orang, bahwa airnya bisa dijadikan obat untuk menyembuhkan penyakit.
- See more at: http://www.jurnalhaji.com/wijhat/keistimewaan-miqat-di-jiranah/#sthash.laCeqwp2.dpuf
Paling tidak, ada dua persoalan hubungan antara kampung Ji’ranah dengan pelaksanaan Ibadah Haji dan Umrah. Pertama, oleh Ulama Mazhab Syafi’i berpendapat, Ji’ranah merupakan salah satu tempat yang ditentukan untuk melakukan ibadah miqat [miqat makani), khususnya bagi penduduk Kota Makkah.
Tempat ini berada di perbatasan tanah geografis (wilayah) kota Makkah dan berjarak lebih kurang 26 km di sebelah selatan kota Makkah. Rasulullah SAW sendiri memulai Ihram-nya dari tempat tersebut. (HR. al-Bukhari dan Muslim).
Oleh karena itu, ketika memasuki kampung Ji’ranah, setiap jamaah haji atau umrah harus memakai pakaian “ ihram ” (baju suci) dan berniat melaksanakan ibadah haji atau umrah.
Berbeda dengan ulama Mazhab Syafi’i, ulama Mazhab Hanafi berpendapat, khusus penduduk kota Makkah, sebaiknya ihram dimulai/ dilaksanakan di Tan’im, juga salah satu daerah yang berada di luar kota Makkah yang jaraknya lebih kurang 5 km dari Makkah.
Dalilnya, karena Rasulullah SAW memerintahkan Abdurrahman bin Abi Bakar untuk ber-ihram dari Masjid ‘Aisyah di Tan’im (HR al-Bukhari dan Muslim). Jika dari Tan’im tidak bisa, menurut mereka, boleh dilakukan dari Ji’ranah.
Kemudian jika tidak bisa juga boleh dari Hudaibiyah, yaitu sebuah desa di sebelah Utara kota Makkah yang sekarang diberi nama dengan asy-Syumaisyiyah. Jarak asy-Syumaisyiyah dari kota Makkah adalah 23 km.
Menurut ulama Mazhab Maliki, seseorang yang melaksanakan ibadah haji atau umrah boleh menggunakan miqat Ji ‘ranah atau Tanim.
Dari segi fadhilah, berarti Ji’ranah tidak berbeda dengan tempat-tempat miqat lainnya, seperti Bier ‘Ali (Zul Hulaifah), Tanim, Hudaibiyah (asy- Syumaisyiyah), Rabigh, al-Juhfah, Yalamlam, Qarnu al-Munazil, dan Zatu lrq. Justru dalam satu riwayat disebutkan, bahwa Ji’ranah memiliki derajat yang lebih tinggi dibanding dengan tempat-tempat miqat lainnya.
Kedua, disamping sebagai tempat melakukan ibadah miqat, kampung Ji’ranah merupakan salah-satu dari beberapa tempat tujuan wisata atau perziarahan oleh para wisatawan atau jamaah Haji dan Umrah yang ada di sekitar Kota Makkah.
Di kampung Ji’ranah ini bisa ditemukan beberapa tempat wisata atau perziarahan. Salah satunya adalah sebuah masjid dan sebuah sumur yang dikenal dengan Bir Thaflah.
Menurut sejarah, sumur (Bir Thaflah) ini dahulunya terjadi sebagai salah satu mukjizat Rasulullah SAW dikala beliau bersama para pejuang Islam lainnya berhenti untuk membagi- bagi harta ghanimah sebagal hasil dari kemenangan mereka pada Perang Hunain yang baru saja mereka menangkan.
Namun karena persediaan air mereka habis, sementara Nabi dan para sahabat lainnya dalam kondisi sangat kehausan, dan di sekitarnya tidak ditemukan air. Nabi Muhammad SAW memukulkan tongkatnya. Berkat kekuasaan Allah SWT, dengan serta merta terpancarlah air yang sangat banyak sehingga cukup untuk memenuhi kebutuhan mereka.
Ajaibnya, sampai sekarang air sumur tersebut tidak pernah kering dan sering dipercaya oleh sebagian orang, bahwa airnya bisa dijadikan obat untuk menyembuhkan penyakit.
- See more at: http://www.jurnalhaji.com/wijhat/keistimewaan-miqat-di-jiranah/#sthash.laCeqwp2.dpuf
Paling tidak, ada dua persoalan hubungan antara kampung Ji’ranah dengan pelaksanaan Ibadah Haji dan Umrah. Pertama, oleh Ulama Mazhab Syafi’i berpendapat, Ji’ranah merupakan salah satu tempat yang ditentukan untuk melakukan ibadah miqat [miqat makani), khususnya bagi penduduk Kota Makkah.
Tempat ini berada di perbatasan tanah geografis (wilayah) kota Makkah dan berjarak lebih kurang 26 km di sebelah selatan kota Makkah. Rasulullah SAW sendiri memulai Ihram-nya dari tempat tersebut. (HR. al-Bukhari dan Muslim).
Oleh karena itu, ketika memasuki kampung Ji’ranah, setiap jamaah haji atau umrah harus memakai pakaian “ ihram ” (baju suci) dan berniat melaksanakan ibadah haji atau umrah.
Berbeda dengan ulama Mazhab Syafi’i, ulama Mazhab Hanafi berpendapat, khusus penduduk kota Makkah, sebaiknya ihram dimulai/ dilaksanakan di Tan’im, juga salah satu daerah yang berada di luar kota Makkah yang jaraknya lebih kurang 5 km dari Makkah.
Dalilnya, karena Rasulullah SAW memerintahkan Abdurrahman bin Abi Bakar untuk ber-ihram dari Masjid ‘Aisyah di Tan’im (HR al-Bukhari dan Muslim). Jika dari Tan’im tidak bisa, menurut mereka, boleh dilakukan dari Ji’ranah.
Kemudian jika tidak bisa juga boleh dari Hudaibiyah, yaitu sebuah desa di sebelah Utara kota Makkah yang sekarang diberi nama dengan asy-Syumaisyiyah. Jarak asy-Syumaisyiyah dari kota Makkah adalah 23 km.
Menurut ulama Mazhab Maliki, seseorang yang melaksanakan ibadah haji atau umrah boleh menggunakan miqat Ji ‘ranah atau Tanim.
Dari segi fadhilah, berarti Ji’ranah tidak berbeda dengan tempat-tempat miqat lainnya, seperti Bier ‘Ali (Zul Hulaifah), Tanim, Hudaibiyah (asy- Syumaisyiyah), Rabigh, al-Juhfah, Yalamlam, Qarnu al-Munazil, dan Zatu lrq. Justru dalam satu riwayat disebutkan, bahwa Ji’ranah memiliki derajat yang lebih tinggi dibanding dengan tempat-tempat miqat lainnya.
Kedua, disamping sebagai tempat melakukan ibadah miqat, kampung Ji’ranah merupakan salah-satu dari beberapa tempat tujuan wisata atau perziarahan oleh para wisatawan atau jamaah Haji dan Umrah yang ada di sekitar Kota Makkah.
Di kampung Ji’ranah ini bisa ditemukan beberapa tempat wisata atau perziarahan. Salah satunya adalah sebuah masjid dan sebuah sumur yang dikenal dengan Bir Thaflah.
Menurut sejarah, sumur (Bir Thaflah) ini dahulunya terjadi sebagai salah satu mukjizat Rasulullah SAW dikala beliau bersama para pejuang Islam lainnya berhenti untuk membagi- bagi harta ghanimah sebagal hasil dari kemenangan mereka pada Perang Hunain yang baru saja mereka menangkan.
Namun karena persediaan air mereka habis, sementara Nabi dan para sahabat lainnya dalam kondisi sangat kehausan, dan di sekitarnya tidak ditemukan air. Nabi Muhammad SAW memukulkan tongkatnya. Berkat kekuasaan Allah SWT, dengan serta merta terpancarlah air yang sangat banyak sehingga cukup untuk memenuhi kebutuhan mereka.
Ajaibnya, sampai sekarang air sumur tersebut tidak pernah kering dan sering dipercaya oleh sebagian orang, bahwa airnya bisa dijadikan obat untuk menyembuhkan penyakit.
- See more at: http://www.jurnalhaji.com/wijhat/keistimewaan-miqat-di-jiranah/#sthash.laCeqwp2.dpuf
Paling tidak, ada dua persoalan hubungan antara kampung Ji’ranah dengan pelaksanaan Ibadah Haji dan Umrah. Pertama, oleh Ulama Mazhab Syafi’i berpendapat, Ji’ranah merupakan salah satu tempat yang ditentukan untuk melakukan ibadah miqat [miqat makani), khususnya bagi penduduk Kota Makkah.
Tempat ini berada di perbatasan tanah geografis (wilayah) kota Makkah dan berjarak lebih kurang 26 km di sebelah selatan kota Makkah. Rasulullah SAW sendiri memulai Ihram-nya dari tempat tersebut. (HR. al-Bukhari dan Muslim).
Oleh karena itu, ketika memasuki kampung Ji’ranah, setiap jamaah haji atau umrah harus memakai pakaian “ ihram ” (baju suci) dan berniat melaksanakan ibadah haji atau umrah.
Berbeda dengan ulama Mazhab Syafi’i, ulama Mazhab Hanafi berpendapat, khusus penduduk kota Makkah, sebaiknya ihram dimulai/ dilaksanakan di Tan’im, juga salah satu daerah yang berada di luar kota Makkah yang jaraknya lebih kurang 5 km dari Makkah.
Dalilnya, karena Rasulullah SAW memerintahkan Abdurrahman bin Abi Bakar untuk ber-ihram dari Masjid ‘Aisyah di Tan’im (HR al-Bukhari dan Muslim). Jika dari Tan’im tidak bisa, menurut mereka, boleh dilakukan dari Ji’ranah.
Kemudian jika tidak bisa juga boleh dari Hudaibiyah, yaitu sebuah desa di sebelah Utara kota Makkah yang sekarang diberi nama dengan asy-Syumaisyiyah. Jarak asy-Syumaisyiyah dari kota Makkah adalah 23 km.
Menurut ulama Mazhab Maliki, seseorang yang melaksanakan ibadah haji atau umrah boleh menggunakan miqat Ji ‘ranah atau Tanim.
Dari segi fadhilah, berarti Ji’ranah tidak berbeda dengan tempat-tempat miqat lainnya, seperti Bier ‘Ali (Zul Hulaifah), Tanim, Hudaibiyah (asy- Syumaisyiyah), Rabigh, al-Juhfah, Yalamlam, Qarnu al-Munazil, dan Zatu lrq. Justru dalam satu riwayat disebutkan, bahwa Ji’ranah memiliki derajat yang lebih tinggi dibanding dengan tempat-tempat miqat lainnya.
Kedua, disamping sebagai tempat melakukan ibadah miqat, kampung Ji’ranah merupakan salah-satu dari beberapa tempat tujuan wisata atau perziarahan oleh para wisatawan atau jamaah Haji dan Umrah yang ada di sekitar Kota Makkah.
Di kampung Ji’ranah ini bisa ditemukan beberapa tempat wisata atau perziarahan. Salah satunya adalah sebuah masjid dan sebuah sumur yang dikenal dengan Bir Thaflah.
Menurut sejarah, sumur (Bir Thaflah) ini dahulunya terjadi sebagai salah satu mukjizat Rasulullah SAW dikala beliau bersama para pejuang Islam lainnya berhenti untuk membagi- bagi harta ghanimah sebagal hasil dari kemenangan mereka pada Perang Hunain yang baru saja mereka menangkan.
Namun karena persediaan air mereka habis, sementara Nabi dan para sahabat lainnya dalam kondisi sangat kehausan, dan di sekitarnya tidak ditemukan air. Nabi Muhammad SAW memukulkan tongkatnya. Berkat kekuasaan Allah SWT, dengan serta merta terpancarlah air yang sangat banyak sehingga cukup untuk memenuhi kebutuhan mereka.
Ajaibnya, sampai sekarang air sumur tersebut tidak pernah kering dan sering dipercaya oleh sebagian orang, bahwa airnya bisa dijadikan obat untuk menyembuhkan penyakit.
- See more at: http://www.jurnalhaji.com/wijhat/keistimewaan-miqat-di-jiranah/#sthash.laCeqwp2.dpuf
Paling tidak, ada dua persoalan hubungan antara kampung Ji’ranah dengan pelaksanaan Ibadah Haji dan Umrah. Pertama, oleh Ulama Mazhab Syafi’i berpendapat, Ji’ranah merupakan salah satu tempat yang ditentukan untuk melakukan ibadah miqat [miqat makani), khususnya bagi penduduk Kota Makkah.
Tempat ini berada di perbatasan tanah geografis (wilayah) kota Makkah dan berjarak lebih kurang 26 km di sebelah selatan kota Makkah. Rasulullah SAW sendiri memulai Ihram-nya dari tempat tersebut. (HR. al-Bukhari dan Muslim).
Oleh karena itu, ketika memasuki kampung Ji’ranah, setiap jamaah haji atau umrah harus memakai pakaian “ ihram ” (baju suci) dan berniat melaksanakan ibadah haji atau umrah.
Berbeda dengan ulama Mazhab Syafi’i, ulama Mazhab Hanafi berpendapat, khusus penduduk kota Makkah, sebaiknya ihram dimulai/ dilaksanakan di Tan’im, juga salah satu daerah yang berada di luar kota Makkah yang jaraknya lebih kurang 5 km dari Makkah.
Dalilnya, karena Rasulullah SAW memerintahkan Abdurrahman bin Abi Bakar untuk ber-ihram dari Masjid ‘Aisyah di Tan’im (HR al-Bukhari dan Muslim). Jika dari Tan’im tidak bisa, menurut mereka, boleh dilakukan dari Ji’ranah.
Kemudian jika tidak bisa juga boleh dari Hudaibiyah, yaitu sebuah desa di sebelah Utara kota Makkah yang sekarang diberi nama dengan asy-Syumaisyiyah. Jarak asy-Syumaisyiyah dari kota Makkah adalah 23 km.
Menurut ulama Mazhab Maliki, seseorang yang melaksanakan ibadah haji atau umrah boleh menggunakan miqat Ji ‘ranah atau Tanim.
Dari segi fadhilah, berarti Ji’ranah tidak berbeda dengan tempat-tempat miqat lainnya, seperti Bier ‘Ali (Zul Hulaifah), Tanim, Hudaibiyah (asy- Syumaisyiyah), Rabigh, al-Juhfah, Yalamlam, Qarnu al-Munazil, dan Zatu lrq. Justru dalam satu riwayat disebutkan, bahwa Ji’ranah memiliki derajat yang lebih tinggi dibanding dengan tempat-tempat miqat lainnya.
Kedua, disamping sebagai tempat melakukan ibadah miqat, kampung Ji’ranah merupakan salah-satu dari beberapa tempat tujuan wisata atau perziarahan oleh para wisatawan atau jamaah Haji dan Umrah yang ada di sekitar Kota Makkah.
Di kampung Ji’ranah ini bisa ditemukan beberapa tempat wisata atau perziarahan. Salah satunya adalah sebuah masjid dan sebuah sumur yang dikenal dengan Bir Thaflah.
Menurut sejarah, sumur (Bir Thaflah) ini dahulunya terjadi sebagai salah satu mukjizat Rasulullah SAW dikala beliau bersama para pejuang Islam lainnya berhenti untuk membagi- bagi harta ghanimah sebagal hasil dari kemenangan mereka pada Perang Hunain yang baru saja mereka menangkan.
Namun karena persediaan air mereka habis, sementara Nabi dan para sahabat lainnya dalam kondisi sangat kehausan, dan di sekitarnya tidak ditemukan air. Nabi Muhammad SAW memukulkan tongkatnya. Berkat kekuasaan Allah SWT, dengan serta merta terpancarlah air yang sangat banyak sehingga cukup untuk memenuhi kebutuhan mereka.
Ajaibnya, sampai sekarang air sumur tersebut tidak pernah kering dan sering dipercaya oleh sebagian orang, bahwa airnya bisa dijadikan obat untuk menyembuhkan penyakit.
- See more at: http://www.jurnalhaji.com/wijhat/keistimewaan-miqat-di-jiranah/#sthash.laCeqwp2.dpuf






0 comments:
Post a Comment